Ilmu Pengetahuan Minangkabau Tempo Dulu

 

Berdasarkan kajian sosio-lingustik dan sosiologi tersebut, masyarakat Minangkabau secara umum dapat dikatakan sebagai masyarakat akademis.

Beberapa indikasi untuk itu adalah sebagai berikut :

1. Penggunaan angka-angka

Bagi masyarakat minangkabau tidak hanya sebagai penghitung dan pembatas sebuah bilangan atau penjumlahan, tetapi sekaligus juga sebagai pembeda yang satu dengan yang lain. Orang minangkabau mengenal sistem perimbangan dengan angka-angka yang genap seperti dua, tiga, empat, dstnya. Bilangan empat merupakan perimbangan antara dua dan dua. Hal ini banyaj ditemukan dalam sistem adatdan bahasa yang mereka pakai sampai sekarang yaitu koto nan ampek (untuk tempat), urang nan ampek (untuk fungsi manusia), kato nan ampek (untuk bahasa dan hukum), indak tahu dinan ampek (untuk etika dan moral), sahabat na ampek (untuk music, saluang), dan banyak lagi.

Sesuatu yang empat terdiri dari suatu keseimbangan 2 dan 2. Siang dan malam akan berimbang dan pagi dan sore. Hilir dan mudik berimbang dengan ateh dan baruah, begitu seterusnya. Dalam perkembangan berikutnya, setelah Islam masuk dan ajarannya telah mengakomodasi sistem adatnya dalam beberapa aspeknya, masyarakat minangkabau mengenal apa yang disebut bilangan “tunggal” dan “banyak” menurut terminologi Islam. Tunggal (Allah) atau aso atau satu adalah angka atau bilangan 1. Banyak (lebih dari  satu adalah 3, 5 dan 7) langit tujuh lapis, kelambu tujuh lapis, puti nan batujuah, dan banyak lagi. Penggunaan angka-angka tersebut juga digunakan oleh masyarakat modern bagi penanda atau pembeda. Hal ini dapat dilihat dengan penggunaan nama-nama jalan; 1st street, 2nd street, dst, sebagaimana yang ditemukan pada nama-nama jalan di kota-kota besae dunia seperti New York misalnya. Tidak ada bedanya dengan apa yang telah diterapkan orang minanf ketika mereka member nama negerinya.

2. Dalam penggunaan Bahasa.

Dalam sistim komunikasi, perundingan dan pembicaraan umum, masyarakat minangkabau lebih mementinkan kesamaan pengertian untuk setiap kata (vocabulary). Mereka menyadari, bila pengertian untuk satu kata berbeda untuk masing-masing pihak yang sedang berkomunikasi dalam suatu perundingan akan dapat menyebabkan kesalahan-kesalahan pengertian maksud dan tujuan. Hal semacam itu dapat disimak dalam pidato-pidato adat atau pesambahan. Setiap kata selalu diberikan batasan yang jelas. Seperti misalnya, orang minang tidak mengenal kata biru dalam kamus bahasanya, mereka mengenal kata biru dalam kamus bahasanya, mereka mengenal kata hijau. Untuk biru laut, merka harus menjelaskan dengan sebutan “ijau lauik”, hijau seperti warna laut, ijau daun (untuk warna daun), ijau pucuak (unutk warna hijau muda), dsbnya. Memberikan batasan yang jelas terhadap suatu kata, dalam kehidupan masyarakat modern ditemukan saat merak menyiapkan naskah perundang-undangan, perjanjian-perjanjian, pernyataan-pernyataan, kertas kerja ilmiah.

3. Sistim Sosial.

Selain 2 faktor di atas, masih ada beberapa kondisi sosial masyaralat minang yang mempercepat mereka menyerap dan mengembangkan pengetahuan, Ilmu dan teknologi. Sejarah telah mengantrakan informasi yang sangat berharga sekali kepada kita. Orang minang adalah masyarakat yang sangat mementingkan informasi. Selalu mereka bertanya kepada seseorang yang datang; baa kaba. bagaimana kabar, bukan sapaan; alah makan.

dalam sejarahnya, masyarakat minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang lebih dulu mengenal dan menerbitkan surat kabar Indonesia. Surat kabar terbanyak yang terbit di Indonesia adalah di minangkabau. Begitu juga penerbitan buku-buku. Pembuatan senjata dan mesiu merupakan home industry terbesar di minangkabau. Catatan Raffles terhadap masyarakat di pedalaman minangkabau terhadaphal ini dapat dipelajari kembali. Menghancurkan home industry inilah yang pertama dilakukan belanda sebelum mereka merajalela di minangkabau. Begitu juga dengan adanya institusi merantau, telah menyebabkan orang minang menjadi sangat terbuka, menerima berbagai perkembangan keilmuan. Karenanya, sampai sekarang “rantau” bagi orang minang adalah “jembatan” bagi mereka untuk menyalurkan berbagai ilmu dan pengetahuan bagi masyarakatnya yang berada di negerinya (nagari).

dari apa yang dibentangkan seperti di atas dapat dijadikan sebagai indicator bahwa masyarakat minangkabau adalah masyarakat yang sesungguhnya adalah masyarakat yang selalu berjalan di depan dalam menyerap dan pengembangan pengetahuan, ilmu dan teknologi. Sungguhpun begitu, masyarakat minangkabau menghadapi berbagai kendala dalam pengembangan berikutnya.

Minangkabausiana

Support

Hubungi Kami

Perpustakaan dan Kearsipan

Provinsi Sumatera Barat

Jl.Diponegoro No.4 Padang

Sumatera Barat, Indonesia

P: (0751) 21607 Fax. 0751-35646

JoomShaper