Peran Gender dalam Arsitektur Minangkabau

 

Seperti yang kita ketahui, kehidupan di Minangkabau terutama dikembangkan oleh kaum perempuan, hal ini ada kaitannya dengan aturan adat dimana tanah diwariskan kepada garis keturunan ibu. 

Pada awalnya sebidang tanah dimiliki oleh 1 keturunan (a), jika dia memiliki dua anak perempuan maka tanah itu di bagi dua (b), pada generasi berikutnya (a1,a2,b1,b2) tanah yang dimiliki oleh beberapa keturunan yang luasnya semakin kecil. Akhirnya tanah tersebut tidak produktif lagi untuk pertanian karena hanya bisa dipakai  untuk bangunan. Tanah yang tadinya untuk pertanian, sekarang berubah menjadi rumah-rumah/bangunan. Anak laki-laki tidak bisa mewarisi tanah atau rumah dan hidup di rumah istrinya masing-masing sebagai orang  pendatang. a) Awal keturunan, b) generasi ke dua, c) generasi ke tiga dst.

 

 

 

Pembagian tanah pusako untuk wanita di Minangkabau.


Secara psikologis mulai dari tanah, rumah, pakaian, peralatan hidup (materi) adalah milik perempuan bukan kaum laki-laki.  ) Dari titik tolak ini, kita dapat mulai membahas bagaimana budaya visual, seni atau arsitektur tradisi Minangkabau itu.
Banyak teori, yang mengatakan kaum laki-laki juga mengatur materi, yaitu  paman atau ninik mamak (saudara laki-laki perempuan/ibu), yang dipandang sebagai manajer harta pusako (Wisran Hadi, 2008, dalam ceramah di TVRI Padang), tetapi realitas menunjukkan bahwa jika terjadi konflik dalam komunitas Minangkabau jarang bisa tuntas terselesaikan oleh ninik mamak (bahkan sering hanya sebagai penonton). Konflik harta ini terjadi bukan dengan suku lain, tetapi dengan saudara sendiri (sesuku) Konflik ini sering terjadi karena pembagian tanah, dan oleh tanaman yang tumbuh di dalamnya, atau masalah pembagian air di sawah. Pembagian tanah ini secara teoritik diterangkan oleh Selma Nakamura , 2001 (gambar 1.7) .  )
Karena tidak memiliki kekuasaan atas harta, atau teritorial, dan hidupnya menumpang pada pihak istri, secara psikologis kaum laki-laki sering mengalami tekanan kejiwaan. Terutama karena secara fisik maupun psikologis harus berada di luar komunitas aslinya. Dia memiliki rumah dan kampung halaman hanya secara ilusi (abstrak) tetapi tidak memiliki secara material.
Untuk membentuk dunia dan kelompoknya sendiri maka laki-laki Minang umumnya berkumpul di surau  (dahulu), atau di lapau (sekarang). Jadi komunitas surau terbentuk bukan semata karena aturan adat. Tetapi oleh dorongan psikologis untuk membentuk komunitas tersendiri. Dan hal ini dihayati sebagai sebuah kebebasan dan kesenangan. Ikatan komunitas surau menjadi hilang saat kehidupan diubah oleh moderenitas, dimana laki-laki boleh tinggal di rumah orang tuanya dan dibesarkan berdasarkan perhatian yang sama dengan anak perempuan.
Kebebasan seorang laki-laki Minang adalah jika berkumpul di lapau dan terbebas dari masalah keluarga. Lapau adalah tempat dimana segala hal dapat dibicarakan, termasuk juga pekerjaan. Jadi lapau memegang peran penting untuk memperoleh pekerjaan bagi orang-orang yang biasa kerja lepas.  Kebiasaan itu tidak bisa diubah sampai usia tua. Di kampung-kampung dapat dilihat, walau sudah uzur sekalipun berusaha untuk duduk di lapau.
Karena komunitas surau telah hilang (baca karangan A.A. Navis Robohnya surau Kami). maka komunitas lapau semakin kuat eksistensinya, dengan segala dampak positif dan negatifnya.  Kalau diteliti dengan cermat, kaum laki-laki Minang secara sadar atau tidak sadar berada dalam  dunia konflik, misalnya antara mementingkan Islam (patriarkat) dan adat (matrilarkat), antara mementingkan kemenakan dan anak, antara suku sendiri (keponakan) dengan suku lain (anak) dan seterusnya. Kaum perempuan juga banyak menderita karena konflik dengan saudaranya sendiri, terutama dalam hal penetapan teritorial (pembagian tanah), pamer materi atau kekayaan dalam rumah gadang, dan dalam  kepemimpinan peran imajinatifnya sebagai  bundo kanduang, yang dalam beberapa pengamatan kelihatan over acting  dalam menjalankan perannya  )
Bagaimana ketidakstabilan psikologis orang Minang digambarkan oleh, H.H.Saanin Dt. Tan Pariaman, dalam buku M.A.W Brouwer, dkk. Kepribadian dan Peruba hannya (1989: 200)

“Adalah suatu kenyataan bahwa orang Minangkabau dalam kehidupuan sehari-hari selalu dihadapkan kepada “dualisme” dan konflik yang dipaksakan kepadanya, antara lain: petentangan antara prilineal dan matrilineal”……………… Selanjutnya Saanin (1989: 201): “Dalam dunia moderen dan menurut agama Islam yang patriarkal, seorang suami berkewajiban mencari nafkah untuk anak-anak dan isrinya. Dalam sistem matriarkal tugas seorang laki-laki adalah menciptakan anak dari istrinya, tetapi tidak bertanggungjawab dalam hal membelanjai anak dan istrinya (karena beban itu ditanggung oleh pihak istri dari hasil pertanian milik sukunya) Selanjutnya oleh Saanin (1989: 202): “Padangitis”, istilah bagian Psikiatri Universitas Indonesia, yang merupakan psikopatologi suku bangsa Minangkabau yang penting.”

“Di zaman Hindia Belanda, hampir semua dokter yang baru lulus memohon kepada D.V.G ( Dep.Kesehatan zaman kolonial) supaya ditempatkan sejauh mungkin dari Minangkabau.” (Saanin, 1989: 202)
Penelitian-penelitian tentang makna budaya visual dapat dikaji dari aspek psikologis dan psikologi sosial ini, yang berperan dalam memberi makna sebuah objek fisik (artefak), khususnya produk kreatif seni dan bangunan tradisi Minangkabau. Jadi bukan hanya mengambil petatah-petitih adat sebagai cara untuk memberi makna kebudayaan visualnya, sebagai sesuatu makna yang benar. Lagipula nilai dan makna produk kreatif itu tidak hanya berdasarkan kajian persepsi estetik atau artistik-fungsional semata. Hal ini tidak menggambarkan pantulan apresiasi yang sebenarnya. Sebab orang Minangkabau bukanlah seorang wisatawan di negerinya sendiri. 
Oleh karena besarnya peran gender wanita atas fungsi terirorialitas dan keruangan dalam arsitektur seharusnya penelitian akademik arsitektur sebaiknya  mengikutsetrtakan penelitian tentang peran gender dalam hubungannya dengan pembentukan lingkungan habitat,  termasuk bangunan. 
Pada sisi lain ada pendapat yang mengatakan (bahkan telah menjadi teori pula) bahwa lingkungan habitat ini telah diatur oleh adat Minang. Tetapi kesimpulan-kesimpulan penelitian yang ditarik atas hubungan adat (struktur dan sistem sosial tradisional) dengan lingkungan habitat  umumnya masih prematur. 
Pelaksanaan tatacara adat juga hanya bersifat  konseptual dan temporal saja, sebab hanya ada pada saat upacara adat. Bukan menggambarkan realitas kehidupan sehari hari orang Minang di rumah gadang dan di nagarinya.
Realitas-realitas yang banyak muncul kemudian tentang lemahnya peran adat, diperlihatkan oleh banyaknya konflik-konflik yang terjadi, bukan hanya dalam skala gender dan hunian, tetapi dalam dalam area yang lebih besar yang terjadi adalah  perebutan hak pakai teritorial tanah pertanian dan perladangan antar kaum atau suku   Jadi logis jika timbul kesepakatan Pemerintah Sumatera Barat baru-baru ini untuk mensertifikatkan tanah kaum atau suku, jika tidak ada pemiliknya lagi karena keturunannya punah, maka tanah tersebut jadi milik negara (TVRI, Sumbar Juni 2008)
Ahli budaya Minangkabau (yang pesimistik) sering melihat budaya Minangkabau sebagai budaya konflik, yang dalam taraf tertentu juga dialami oleh kaum wanitanya. Bagi mereka yang merasa dirugikan umumnya akan keluar  habitatnya atau merantau.   Sebagai refleksi budaya ini yang terlihat (tangible) diperlihatkan oleh banyaknya dibangun balai batu (tempat musyawarah dari batu) yang di buat semasa Minangkabau lama, terutama  jika terjadi perselisihan. Bukti-bukti balai batu ini masih dapat kita lihat di nagari-nagari tertentu di Sumatera Barat seperti di  Saningbakar dan Sulit Air.
Para ahli budaya Minangkabau umumnya sepakat bahwa dahulunya nagari-nagari di Mingkabau adalah ‘republik-republik kecil’ yang  berbeda satu dengan lainnya dan mereka bukan dalam posisi damai. Refleksi budaya yang diperlihatkan dalam kondisi ini adalah adanya “adat selingka nagari”.



Gambar.1.8 Lokasi-lokasi tempat balai batu atau tempat musyawah dari batu di  nagari Saningbakar jaman dahulu. Sekarang yang ada adalah Balai Gadang yang  dibangun  dalam bentuk bangunan balai adat

Minangkabausiana

Support

Hubungi Kami

Perpustakaan dan Kearsipan

Provinsi Sumatera Barat

Jl.Diponegoro No.4 Padang

Sumatera Barat, Indonesia

P: (0751) 21607 Fax. 0751-35646

JoomShaper