Sistem Religi suku Minangkabau

Pada prinsipnya orang Minangkabau menganut agama Islam. Maka bila ada orang Minangkabau yang tidak memeluk agama Islam adalah suatu keganjilan yang mengherankan, walaupun kenyataannya ada sebagian yang tidak patuh menjalankan syari’at-syari’atnya.

Disampung meyakini kebenaran ajaran-ajaran Islam, sebagian dari mereka masih percaya adanya hal-hal bersifat takhayul dan magis, misalnya : hantu-hantu jahat, kuntilanak, tenung (menggasing) dsb. Untuk menolak kejahatan makhluk halus itu orang biasanya pergi ke dukun.

Dahulu ada upacara selamatan yang bermacam-macam, seperti : tabuik (peringatan Hasan Husein), khitan, katam mengaji, dan upacara dalam rangka lingkaran hidup manusia dari lahir sampai mati. Misalnya : kekah, tedak siten, selamatan kematian pada hari ke-7 sampa dengan hari ke-100.

Pemkot Padang Akan Kembangkan Wisata Pukek

Pemerintah Kota (Pemkot) Padang akan mengembangkan wisata pukek sebagai salah satu destinasi liburan laut. Pemkot Padang, ingin mengeksplorasi keindahan sepanjang Samudra Hindia melalui wisata pukek.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padang, Nasir Ahmad menganggap, wisata pukek merupakan destinasi liburan yang unik. Sehingga diharapkan, wisata pukek dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Kota Padang.

Organisasi Politik dan Sosial di Minangkabau

Dalam memepelajari raja-raja minangkabau tidak ada gunanya menerangkan struktur sosial politik minangkabau, karena raja-raja itu bukanlah orang minangkabau akan tetapi orang asing, biasanya mereka di sebut orang hindu atau orang hindu-jawa dan mereka selalu dipisahkan dari hidup dan kehidupan orang minagkabau (mereka tidak berkuasa dan tidak menimbulkan kegoncangan ketika mereka di singkirkan pada permulaan abad ke 19).
Seorang pangeran melayu (Jambi) dalam tahun 1347 berada dijawa di keraton majapahit. Pada tahun 1347 dia kembali kesumatera,mengusai minangkabau dan menetap di minagkabau pangeran yang bernama Adityawarman pada pertengahan abad ke14 memulai kekuasaan raja di minangkabau.

Perbedaan Bahasa Minang antar Daerah di Sumbar dan Perbedaannya dengan Bahasa Melayu

Bahasa Minangkabau atau Baso Minang adalah salah satu anak cabang bahasa Austronesia yang dituturkan khususnya di wilayah Sumatra Barat, bagian barat propinsi Riau serta tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Terdapat dua kontroversi mengenai Bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu. Sebagian pakar bahasa menganggap bahasa ini sebagai dialek Melayu, karena banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk tuturan didalamnya. Sedangkan yang lain justru beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang berbeda dengan Melayu.

Minangkabausiana

Support

Hubungi Kami

Perpustakaan dan Kearsipan

Provinsi Sumatera Barat

Jl.Diponegoro No.4 Padang

Sumatera Barat, Indonesia

P: (0751) 21607 Fax. 0751-35646

JoomShaper