Organisasi Politik dan Sosial di Minangkabau

 Dalam memepelajari raja-raja minangkabau tidak ada gunanya menerangkan struktur sosial politik minangkabau, karena raja-raja itu bukanlah orang minangkabau akan tetapi orang asing, biasanya mereka di sebut orang hindu atau orang hindu-jawa dan mereka selalu dipisahkan dari hidup dan kehidupan orang minagkabau (mereka tidak berkuasa dan tidak menimbulkan kegoncangan ketika mereka di singkirkan pada permulaan abad ke 19).
Seorang pangeran melayu (Jambi) dalam tahun 1347 berada dijawa di keraton majapahit. Pada tahun 1347 dia kembali kesumatera,mengusai minangkabau dan menetap di minagkabau pangeran yang bernama Adityawarman pada pertengahan abad ke14 memulai kekuasaan raja di minangkabau.

RAJA DI MINANGKABAU

Sebenarnya ada 3 orang raja di minangkabau:
1. YANG DIPATUAN BASA atau RAJA ALAM di PAGARUYUANG
2. RAJA ADAT di BUO
3.RAJA IBADAT di SUMPU KUDUS
Ketiga raja ini di namakan RAJA TIGO SELO.

Disamping 3 raja ini ada pemerintahan oleh 4 pembesar lain, yaitu BASA AMPEK BALAI;
1. BANDAHARO di sungai tarab, wakil raja adat {menteri}.
2. TUAN KADI di padang banting, wakil raja ibadat{menteri}
3.MANGKUDUN di sumanik
4. INDOMO di suruaso.
ke 4 orang pembesar ini setara dengan dewan menteri.


 Yang sederajat akan tetapi tidak termasuk BASA AMPEK BALAI adalah TUAN  GADANG.uyasaan penghulu.
 YANG DI PATUAN harus di pandang sebagai seorang bersipat sakti dan suci,dan merupakan lamabang kesatuan Alam minangkabau dan baefungsi mampersatukan. untuk fungsi mempersatukan ini paqda waktu-waktu tertentu dia mangadakan perjalana keliling melalui rute-rute yang telah di tetapkan oleh tradisi dan tinggal selama waktu- waktu tertentu pula pada tiap-tiap persinggahan.


  Hal ini merupakan bukti bahwa raja tidak berkuasa rakyat tidak pernah datang kepadanya, tetapi dia yang harus berkunjung kepada rakyatnya,dia tidak dapat pergi seenaknya,baginya telah di tetapkan jalan yang tertentu pula,dia tidak boleh menyimpang,tidak boleh memperpanjang tinggal di suatru tempat,sungguhpun tujuan itu untuk mempererat hubungan antara raja dengan rakyatnya diantara daerah-daerah  yang di kuasainya. Kedudukan Raja Alam dalam 3 selo, ketiga-tiganya raja dari keluarga raja patrilineal, raja adat bergelar tuan gadis{raja adat pertama adalah adik perempuan dari raja pagaruyuang}dan di ketahui raja pagaruyuang yang terakhir juga seorang perempuan yaitu TUAN GADIS RENO SUMPU.  

Kesimpulan yang dapat di ambil ialah bahwa raja adat mewakili prinsip kewanitaan. raja adat mewakili pengelompokan matrilineal,yang menguasai atau berkuasa dalam kejadian sosial-politik"
  Raja ibadat adalah raja hal-hal keagamaan,yang didalamnya berkuasa kelompok patrilineal,denagan demikian maka raja alam yang dipatuan sanggup menkombinasikan kedua  fungsi dalam hal-hal yang berada di bawah kekuasaan raja adat dan raja ibadah. dalam menghadapi rakyatnya dia mewakili kerajaan sebagai keseluruhan dan juga demi persatuan dan kesatuan minagkabau dalam segala sisi.
  Dapat juga dikatakan bahwa masarakat minangkabau memekai adat matrilineal dalam segi politik,tetapi dalam segi keamanan dan dsalam kehidupan sakral dia adalah pattrilineal, keadaan ini suda ada sebelum islam masuk keminangkabau. Oleh sebab itu ketika agama islam masuk ke minangkabau dan menekankan segala sesuatu pada prinsip patrilineal tidak menimbulkan banyak kegoncangan.
 Sewaktu agama islam maju dan berkembang hal-hal yang bersifat keagamaan dann suci dianggap sebagai daerah keagamaan dan kepercayaan, sesudah menguasai bagian ini agama islam dapat melepaskan diri dari cengkraman adat,sehingga sedikit sekali hal yang bersifat keagaaman dan sakral masuk perhatian adat
 Ketika adat hanya menanggulangi hal-hal yang bersifat sosial dan politik,ekonomi dan hukum. sedangkan hal-hal yang bersifat keagamaan dan suci di tarik kedalam orbit islam,maka organisai patrilineal yang erat hgubungan nya dengan tenaga-tenaga atas alami dan gaib manjadi tidak penting lagi,yang tinggal hanya jejak yang samar-samar dalam bidang adat nenek moyang. dengan demikian maka arti raja dalam bidang-bidang sakral juga menghilang,kekuasaan raja yang hanya sedikit itu hilang sama sekali semasa perang padri.


  DEMOKRASI MINANGKABAU


Seperti telah dikatakna ada dua sistem adat di minangkabauyang menyebabkan ada dua sistem demokrasi di minangkabau. yang pertama adalah LARAS KOTO PILIANG dengan pemimpinnya DT. KETEMANGGUNGAN dan yang kedua adalah  LARAS BODI CANIAGO dibawah pimpinan DT. PERPATIAH NAN SABATANG.
 DT.KETEMANGUNGAN adalah anak  Maharaja DIRAJO, seorang ningrat sedangkan DT. PERPATIAH adalah anak CATI BILANG PANDAI seorang pandai besi{masyarakat biasa}.
Sistem adat  yang dikembangkan oleh dua tokoh besar minangkabau ini sangat berbeda, sungguhpun dalam prinsipnya serupa, yaitu: musyawarah untuk mencapai mufakat, musyawarahnya sama namun cara menyampaikan mufakat berlainan.
          1.  LARAS KOTO PILIANG
Dalam laras ini berlaku adat berjenjang naik,bertangga turun{hirakiri}.
Pemimpinnya Dt.Ketemanggungan adalah seorang yang royalis.
penghulu adat dalam laras koto piliang
bertingkat tingkat,ditiap nagari ada yang tertinggi ,yaitu penghulu pucuak.
kalau dalam rapat rapat kerapatan adat tidak terdapat kata sepakat dengan aklamasi maka pucuk dapat memutuskan. kalau rapat senagari tidak dapat memutuskan maka masalah akan di serahkan kepada raja 3 selon dan yang akan memberikan keputusan terakhhir adalah raja alam yang dipertuan.
          2.   LARAS BODI CANIAGO
Dipimpin oleh Dt. perpatiah nan sabatang yanga dalah keturunan orang biasa, demokrasi bodi caniago adalah demokrasi tulen,semua penghulu duduk sama rendah tegak sama tinggi , balai balai tempat mereka mengadakan raapat ,lantainya rata ,tidak seperti  balai balai koto piliang yang ujung ke ujungnya di buat lebih tinggi {tempat penghulu yang setinggi duduk}.
kalau kerapatan adat nadari tidak dapat memutuskan maka masalah akan diteruskan kepada kerapatan adat selaras,kemudian kerapatan adat seluhak,kalau luhak belum jga dapat memutuskan maka masalahnya akan di bawa ke balai nan panjang ditabek yang merupakan parlemen bagi keluarga bodi caniago disini semuanya akan di putuskan dengan suara bulat {bodi caniago tidak mengakui kekuasaan raja}
     PELAKSANAAN DEMOKRASI
Demokrasi minangkabau di jalan kan oleh kerapatan adat baik koto piliang maupun bodi caniago
angota kerapatan adat adalah penghulu penghulu
 Koto piliang;
  kepala paruik,kepala kampuang dan keempat suku. dan di atas semuanya ini penghulu pucuak
rapat adat melakukan musyawarah untuk mencari kata sepakat atau mufakat,dalam keadaan tidak dapat  mengambil keputusan karena ada anggota yang tidak setuju,maka pucuk dapat memeberikan keputusan sebab kedudukan nya adalah biang nan manabuek,gantiang nan mamutuih {menembus yang hampir tembus dan memutus yang hampir putus} keputusan tertinggi berada di tangan raja alam.
  Bodi caniago;
anggota-anggota kerapatan adat bodi caniagoadalah penghulu andiko ,rapat diadakan di balai balai,sebuah bangunan yang terbuka dengan dinding yang rendah sehingga anggota dapat melihat keluar dan mereka dapat melihat dari luar,balai balai beratap bergonjong khas minangkabau ,di depan balai balai terdapat lapangan rumput yang cukup luas,diatas rumput duduk rakyat banyak,anak kemenakan kadang kadang ada pula yang membawa bekal karena rapat sering kali berlangsung sangat lama.
Pada hari yang di tentukan berkumpulah penghulu penghulu dengan pakaian kebesaran masing masing, rapat di buka oleh pucuk atau oleh penghulu yang tertua pada kerapatan adat bodi caniago,dengan menyembah kepada hadirin sebelum membuka pembicaraan,begitu juga denga pembicara2 berikutnya mereka juga akan melakukan hal yang sama dengan menyembah kepada hadirin,kemudian dia akan mengemungkakan pendapatnya dengan tenang dan sopan dengan kalimat yang berirama,kiasan,pepatah dan petitih,semuanya dalam bentuk kiasan tiadak ada yang to the poin, juga sindiran sindiran yang pada hakekatnya menyakitkan hati dan menyinggung perasaaan di ucapakan dengan mungka yang manis dan harus diterima dengan hati yang tenang dan jiwa yang lapang.
bagi penghulu penghulu yang terlatih dalam perdebatan maupun rapat semua yang di ucapkan sudah di pahami dan juga di maklumi bagaimana pun pedas dan tajam nya kata2 yang diucapkan dengan tenang dan manis, diterima dengan mungka yang jernih,tidak ada yang marah tidak ada mata yang melotot,tidak ada suara yang meninggi.sebab hina bagi seorang penghulu membelalakan mata menghardik dengan suara keras atau menghantam lantai di tempat ramai atau tempat umum,sebaba mereka di pandang dan juga di nilai oleh ratusan pasang mata  anak kemenakan maupaun anak kemenakan penghulu2 lainya.
perundingan tidak akan selesai dalam satu harisetelah rapat selesai maka perundingan akan di lanjutkan di rumah masing masing,di kalangan kaum sendiri,semua kemenakan laki-laki maupun perempuan di libatkan dalam perdebatan dirumah gadang ,dipertimbangakn penyelesaian yang baikapa apa yang akan di usulkan besoknya,ditelungkup ditelentangkan,ditidurkan semalam dengan cara demikian dapatlah diyakini bahwa keputusan yang diambila adalah keputusan seluruh nagari,yang dibawakan oleh penghulu masing masing. sebagai mana biasanya dalam demkrasi rapat berjalan sangat lamban,berhari hari, keputusan di ambil dengan suara bulat dengan aklamasi,tidak boleh ada satu suarapun yang tidak setuju,kalau masih ada seorang penghulu yang tidak sependapat maka rapat akan di teruskan sampai semuanya mufakat
''kok bulek alah dapek di goloangka kok pipih alah bisa dilayangkan. bulek aia dek pambuluah bulek kato dek mufakat"
Pada kerapatan adat koto piliang ,pucuak bulek yaitu penghulu yang tertinggi dapat mengambil keputusan kalau terjadi kemacetan dalam mengambil keputusan karena adanya suara yang menentang. pada kerapatan adat bodi caniago hal tersebut tidak mungkin terjadi,semua keputusan di ambil dengan suara bulat.
           AGAMA ISLAM.
Diperkirakan agama islam masuk ke minangkabau pada pertengahan abad ke XVI melalui tiku dan pariaman, dua buah nagari di pesisir utara kota padang ,dari sana agama islam berkembang ke pedalaman,kedaerah minangkabau pusat maupun daerah rantau,oleh sebab itu dikatakan adat menurun syarak basanki.
  Bagaimana cara penyebaran agama islam di minangkabau tidaklah begitu diketahui akan tetapi kenyataan nya sekarang orang minangkabau  adalah pemeluk agama islam yang sangat kukuh akan ajaran agamanya. bersama dengan daerah aceh minangkabau disebut serambi mekah.
 Seperti dikatakan oleh jossellin  de jong, masyarakat minangkabau memakai adat matrilineal untuk segi segi sosial,politik,ekonomi.dan hukum. dalam segi keagamaan dan sakaral dia adalah patrilineal .keadaan ini sudah ada sebelum islam masuk,oleh sebab itu setelah agama islam masuk dan menekankan segala sesuatu dengan prinsip patrilineal,hal itu tidak menimbulkan kegoncangan dan pertentangan di tengah masyarakat adat.
 sewaktu agama iaslam masuk dan berkembang  hal hal yang bersifat keagamaan dan sakral  dianggap sebagai daerah kepercayaan dan agama. sesudah mengusai bagian ini agama islam dapat melepaskan diri dari cengkraman adat sehingga akhirnya sedikit sekali hal yang bersifat sakral dan agama masuk dalam perhatian adat,ketika hal hal yang sakral ditarik kedalam orbit agama islam ,organisai patreilineal yang erat hubungannya dengan tenaga tenaga gaib dan atas alami menjadi tidak penting lagi,jejwk samar samar tertinggi dalam bidang adat nenek moyang itu menjadi penting sebagai suatu bagian syariaat.


M.Nasroen memberikan keterangan yang berlainan menurut beliau tidak ada pertentangan antara adat dan agama  islam. falasafat dan adat minangkabau yang ternyata dari seluruh pepatah dan fatwa adat berdasarkan ketentuan ketentuan yang terdapat pada alam yang nyata saja,alam ghaib dan alam akhirat belum dapat di capai orang minangkabau,cara berpikir mereka adalah raso jo pareso,oleh sebab itu ketika agama islam datang dengan ajaran ajaran nya.ajaran islam dirasakan sebagai penyempurnaan ajaran adat yang telah ada dan agama mengisi  lowongan  yang belom terdapat dalam adat.
akan tetapi benarkah tidak ada pertentangan?,
ada dan banyak,lain dari yang disebutkan nasroen,pertentangan yang penting ialah bahwa isalam ialah patriarkal sedangkan adat minangkabau adalah matriarkal,sesuatu perbedaan yang sangat prinsipil dengan segala akibat akibatnya,yang sampai sekarang masih di rasakan.harta pusaka dalam adat di turunkan dari mamak ke kemenakan,bukan dari bapak ke pada anaknya sedangkan agama islam mengajarkan hukum faraid yang mewariskan pusakanya dari seorang bapak ke pada anaknya,islam mengajarkan bahwa laki laki memperoleh harta waris 2x lebih banyak dari kaum wanita,dalam adat kaum wanita menempati tempat penting dalamsistem keibuan,kaum wanita yang memegang harta pusaka,sawah ladang adalah untuk kaum wanita.
 dalam pandanga adat,semuanya dapat berbuat. adat sepanjang jalan,sekali air besar sekali tepian beralih,kemenakan belajar kepada mamak,mamak belajar kepada alur dan patut (common sense). sedangkan agama islam membawa ajaran dan dogma-dogma yang harus di patuhi,dan harus diterima kebenarannya.hukum agama tidak dapat di bantah.hallal adalah hallal haram adalah haram.
 kedudukan wanita yang sangat tinggi jadi berkurang,mungkin karena pengaruh kebudayaan arab dan sistim haremnya.
 tetapi dalam sistim pemerintahan nagari penghulu atau datuk tetap menjadi kepala  atau pimpinan  dan kalangan pemungka agama agama menjadi pembantunya.hal ini jelas dalam pembagian 4 jenis petugas di dalam adat koto piliang; penghulu dengan 3 orang pembantunya yakni manti,amam(khatib) dan hulubalang.
 denagan ajaran  yang dogmatis pemuka agama islam lambat laun memperoleh pengaruh dan pengikut dan menjadi pemimpin rakyat yang sangat fanatik,kepada mereka diberikan sebutan tuanku.
 perang padri pada mulanya adalah perselisihan kaum adat dengan kaum agama.kaum adat kemudian meminta pertolongan kepada kompeni( belanda).perang padri akhirnya berarti kehancuran minangkabau yang selanjutnya menjadi daerah jajahan.Hancurannya kehidupan istana pagaruyuang yang pada tahun 1834 dan akhirnay hancurnya gerakan padri sendiri.sejak saat itu di minangkabau pusat terdapat golongan budak budak.  gelar tuangku masih diberikan  sebagai gelar adat tetapi pemungka pemungka agama umumnya di sebut syekh atau angku sieh.

Minangkabausiana

Support

Hubungi Kami

Perpustakaan dan Kearsipan

Provinsi Sumatera Barat

Jl.Diponegoro No.4 Padang

Sumatera Barat, Indonesia

P: (0751) 21607 Fax. 0751-35646

JoomShaper